KARYA TULIS/ARTIKEL

REVITALISASI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF LEARNING (MPCL) DALAM MENCIPTAKAN ‘PAIKEMM’ DI SEKOLAH

just12

Oleh : Jasmansyah

Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh siswa, bukan diciptakan siswa (Isjoni, 2007). Menurut M. Surya (2003), pembelajaran merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dan pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidikan untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.

Dalam proses pembelajaran setidaknya harus melibatkan dua komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu teachers (pendidik), dan learners (peserta didik). Kedua komponen tersebut satu sama lain saling terkait untuk menciptakan interaksi edukasi guna mencapai suatu tujuan pendidikan. Satu sama lain harus memiliki sense dan point of view yang sama dalam memaknai arti pendidikan. Guru sebagai pendidik berusaha bagaimana mendidik dan menyampaikan materi ajar dengan baik; siswa (peserta didik) sebagai pembelajar harus mengimbangi dengan menjadi pelajar yang baik dan mampu memposisikan diri sesuai tugas dan fungsinya, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Menurut UU no.  20 tahun 2003 pasal 3 bahwa tujuan pendidikan nasional adalah “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. Sebuah harapan nan sangat indah dan ideal  sekaligus amanah yang amat sangat besar yang harus diemban oleh insan-insan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana digariskan UU tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Optimalisasi usaha-usaha semua pihak sangat menentukan apakah tujuan pendidikan secara nasional dapat terwujud atau justru hanya mimpi.

Ungkapan yang mengatakan ‘Nothing impossible in the world”, “Where is will there is way” akan menjadi kenyataan jika semua komponen menyadari peran dan hungsinya. Dari kesadaran akan muncul positive behavior dan positive thought serta secara bersama-sama berusaha melakukan usaha optimal untuk mencapai target dan tujuan pendidikan yang diimpikan.

Dalam pandangan penulis, sejauh ini pemerintah sudah mencoba (walaupun belum maksimal) membuat  terobosan dan gebrakan krusial untuk mempercepat ketercapaian tujuan pendidikan di Indonesia; seperti realiasi anggara pendidikan 20%, peningkatan mutu dan kesejahtraan guru dan dosen, melengkapi sarana dan prasana belajar, dll. Semua itu diniati untuk untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Namun, semua itu tidak akan banyak berdampak jika garda depan pendidikan (guru/dosen) tidak proaktif mendukungnya. Lalu, apa sebenarnya yang harus dilakukan guru?

Guru / dosen sebagai garda terdepan dalam proses pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Di tangan mereka perubahan pendidikan diharapkan, karena merekalah yang bersentuhan langsung dengan peserta didik. Mau jadi seperti apa peserta didik (learners) sangat tergantung pada sentuhan tangan-tangan para pendidik (guru/dosen). Tentu hal tersebut menjadi tugas sekaligus beban yang cukup berat bagi sosok guru, bagaimana membuat siswa belajar dan menjadikan mereka pelajar yang cerdas, berakhlaq, berperadaban, kompetitif sesuai amanat UU. Salah satu upaya sederhana dan riil yang harus dilakukan oleh guru adalah be competent and professional teachers. Indikatornya adalah guru diharapkan mampu berkreasi, berinovasi dan berinprovisasi  menciptakan proses dan nuansa belajar yang menyenangkan, menginspirasi dan memotivasi peserta didik. Pada akhir PAIKEMM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif Menyenangkan dan Menginspirasi) dapat menyadi kenyataan.

PAIKEMM adalah pengembangan dari PAKEM yang menjadi inspirasi dan pegangan para pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. PAIKEMM selaras dengan KBK dan KTSP karena menitikberatkan pada penggalian dan pengembangan potensi siswa sesuai bakat dan kemampuan masing-masing dalam suasana belajar yang fun, motivated, dan inspiring. Untuk mencapai tujuan PAIKEMM, banyak teori-teori pembelajaran dari para ahli pendidikan bisa diterapkan oleh  guru dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning.  Model pembelajaran  CL adalah salah satu dari puluhan bahkan ratusan model yang banyak dipraktekkan dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Dalam tulisan ini, penulis akan sedikit mengulas tentang pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.

Slavin (1995) mengemukakan “In cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by teachers. Dari uraian tersebut dapat dikemukan bahwa CL adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok kecil yang berjumlah 4 – 6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa bergairah dalam belajar. Sedangkan Anita Lie (2000) menyebut CL dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas terstruktur. Sebagai model pembelajaran berkelompok, Cooperative Learning menekankan pada students’ centre, humanistic, dan domokratic yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dalam lingkungan belajarnya (Djahiri, 2004).

Model Pembelajaran Cooperative learning (MPCL) diilhami oleh suatu pemikiran “getting better together” yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif bagi para siswa untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai serta skil sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Melalui MPCL siswa tidak hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam PBM, melainkan mereka juga belajar dari siswa lainnya sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Proses pembelajaran dengan MPCL akan mampu menstimulasi dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar dalam sebuah komunitas/kelompok (Stahl, 1994). Ada beberapa variasi model pembelajaran dalam CL, antara lain: Student Team Achievement Division (STAD), Jigsaw, Group Investigation (GI), Rotating Trio Exchanging (RTE), Group Resume, dll.

Dalam  MPCL model STAD titik  focusnya adalah adanya kerjasama anggota kelompok dan kompetensi antar kelompok, siswa bekerja dalam sebuah kelompok dan belajar dari temannya serta mengajar temannya. Model Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Elliot Aronson, dkk, 1978. Model pembelajarn ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan orang lain. Dalam pembelajaran kooperatif model Group Investigation, interaksi sosial menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan skema mental yang baru, dimana dalam pembelajaran ini memberi kebebasan kepada pembelajar untuk berfikir secara analitis, kritis, kreatif, reflektif dan produktif. Model RTE adalah model yang dapat diterapkan di dalam kelas dengan melibatkan murid yang terbagi menjadi 3 orang dan melakukan perputaran. Setiap putaran guru member soal yang berbeda-beda. Sedangkan model Group Resume sangat baik untuk mengembangkan kerja sama, diskusi, dan latihan mempresentasikan suatu masalah di depan kelas.

Pembelajaran kooperatif penting diterapkan dalam mainstream praktek pendidikan, karena memiliki tujuan yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Tujuan dimaksud adalah: 1) Dapat menciptakan interaksi sosial karena membutuhkan partisipasi dan kerjasama kelompok pembelajaran; 2) Dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar yang lebih baik; 3) Dapat menumbuhkan semangat tolong menolong dalam kegiatan pembelajaran; 4) menghilangkan keterasingan peserta didik dalam proses pembelajaran; 5) Membangun kepercayaan diri peserta didik karena berinterkasi langsung dengan teman sebaya; 6) Menumbuhkan semangat saling menghargai antara peserta didik dalam berpendapat pada menyampaikan gagasan, 7) Membangun karakter siswa agar menjadi pelajar yang bertanggungjawab, dll.

Sementara itu, Jarolimek & Parker (1993) mengemukakan keunggulan / manfaat yang dapat diperoleh melalui pembelajaran kooperatif, antara lain: 1) saling ketergantungan yang positif, 2) adanya pengakuan dalam merespons perbedaan individu, 3) siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, 4) menciptakan suasana rileks dan menyenangkan, 5) terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, siswa dan lingkungannya, dan 6) memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.

Model Pembelajaran Cooperative Learning (MPCL) dikembangkan setidaknya untuk mencapai 3 tujuan utama (Ibrahim, 2000), yaitu: 1) Hasil belajar akademik; berbagai penelitian menyebutkna bahwa secara akademik terbukti mampu meningkatkan prestasi siswa dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar, 2) Penerimaan terhadap perbedaan individu; yaitu penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuan. 3) Pengembangan keterampilan sosial; yaitu bagaimana mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi serta nerinteraksi satu sama untuk mencapai tujuan pembelajaran.

 

)* Penulis adalah guru SMAN 1 Sagaranten Kab. Sukabumi Jabar, dosen pada beberapa PT di sukabumi, Ketua Klub Guru cab. Sukabumi, ketua MGMP Bahasa Inggris SMA Sukabumi.

 

 

Referensi

  1. CL sebagai Model Pembelajaran lihat di http://tpcommunity05.blogspot.com
  2. Ibrahim, M. 2000 Pembelajaran koperatif. Surabaya Unesa Press
  3. Isjoni, 2007. Cooperative Learning: Efektifitas pembelajaran berkelompok. Bandung Alfabeta
  4. Jarolimek, J & Parker 1993. Social studies in Elementary Education. NY Mc Millan
  5. Lie, A. 2002. Cooperative learning. Jakarta Grasindo
  6. Slavin, R.E 1995 Cooperative learning USA: Allyn and Bacon

Membuat soal interaktif dengan Software Hot Potatoes

Assalamualaikum wr. wb.
Karena kelihatannya rekan guru sedang bersemangat dengan pemanfaatan multi media untuk pembelajaran, saya ingin memberi info sedikit mengenai software HotPotatoes. Apakah Hot Potatoes itu? Ini bukan makanan lho tapi software untuk membuat soal interaktif. Software ini free untuk pendidikan yang dapat di download di sini Saat ini sudah sampai versi 6 yang memungkinkan format penulisan dari kanan ke kiri. Format soal yang dapat dibuat dengan software ini cukup bervariasi mulai dari pilihan ganda, isian singkat, acak kalimat, menjodohkan, pilihan ganda majemuk, true-false dan teka teki silang (TTS). Semua format soal dapat dibuat dengan mudah tanpa memerlukan ketrampilan komputer yang tinggi.
Jika anda mengistall program ini jangan lupa untuk melakukan register dengan crack yang dapat anda dapatkan disini.

Klik disini untuk lebih detail cara membuat soal interactive dengan Hot Potatoes

TEACHERS’ TECHNIQUE TO INCREASE STUDENTS SPOKEN INTERACTION IN EFL CLASSROOM

(A CASE ATUDY AT SMA ISLAM AS-SYAFI’IYAH SUKABUMI)

just12

By. JASMANSYAH

(Ketua KlubGuru Sukabumi, Ketua MGMP Bhs. Inggris SMA, an ENGLISH teacher at SMAN 1 Sagaranten & Dosen pada beberapa PT di Sukabumi)

In this globalization era, English has an important role in the world, in term of communication and interaction. As an International language, most countries in the world use English as medium of communication in entire aspects of life. Meanwhile, In Indonesia English is considered as a foreign language (EFL). It also has been introduced to educational institutions which is learnt from Junior High School up to university as compulsory subject. Read More here….

Di halaman ini Bapak/Ibu guru dapat mendowload segala informasi yang mungkin dibutuhkan oleh Bapak/Ibu guru dalam melaksanakan tugas, antara lain :

  1. Team teaching
  2. Lesson study 1
  3. Lesson study 2
  4. Standar pengembangan MGMP
  5. SOP Standar pengembangan MGMP 1
  6. SOP Standar pengembangan MGMP 2

Tulisan-tulisan lainnya…..

   
1 Improving Students’ Communicative Competence through Contextual Approach    
2 THE IMPORTANCE OF MEDIA (COMPUTER) IN TEACHING ENGLISH AS FOREIGN LANGUAGE (EFL)    
     
3 ETHIC CODES OF INDONESIAN TEACHERS    
  DIALOG JOURNALS    
4 “THE IMPORTANCE OF MASTERING ENGLISH”    
5 COMMEMORATES THE NATIONAL EDUCATION DAY MAY 2 AND EDUCATIONAL PHENOMENA IN INDONESIA    
6 Optimalisasi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah    
7 THE REFLECTION OF LEARNING TRANSLATION    
8 INDIVIDUAL LEARNER DIFFERENCES AND SECOND LANGUAGE ACQUISITION    
9 TEACHERS PROBLEM IN THE SPEAKING CLASS    
10 MENGGUGAT SISTIM PEMBELAJARAN BAHASA DI INDONESIA)*    
11 THE IMPORTANCE OF MASTERING ENGLISH    
12 THE EFFECTIVENESS OF LEARNING VOCABULARY THROUGH GAMES  

7 thoughts on “KARYA TULIS/ARTIKEL

  1. Assalamualaikum W. W.

    Fakultas Geografi UGM proudly presents:
    GEOGRAPHY STUDENTS CREATIVITIES WEEK TINGKAT NASIONAL
    Lomba Karya Tulis Ilmiah || Debate Competition || Speech Contest
    TEMA : PEMUDA INDONESIA MENCERDASI BENCANA

    TANGGAL PELAKSANAAN : 29 – 30 OKTOBER 2011

    Terbuka untuk semua pelajar SMA , IPA maupun IPS😀

    FASILITAS
    Sertifikat, Co-card, Pin, Block note & Bolpoin, Makan dan Snack

    Contact Person :
    Adlan (085246224403)
    Malindo (085725822045)
    Gerry (08568457512 )

    http://gesture-ugm.blogspot.com/

  2. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Alhamdulillah, meski baru mendapat dan membuka alamat ini (mgmp kab. sukabumi), setidaknya saya telah menambah dan membuka pikiran saya. Namun saya tidak pinter tentang teknologi internet, tahupun sedikit karena otodidak atau coba-coba saja.
    Saya ingin sekali mendapat pengetahuan dan ilmu baru sebagai teman seprofesi dari manapun.
    Untuk itu, saya mohon maaf bila tidak mendaftar di alamat ini, karena tidak tahu.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  3. Koreksi saja:
    Nothing is impossible in the world
    Where there is a will, there is a way
    Kesempurnaan mulai dari hal-hal kecil merupakan cerminan kesempurnaan utuh pribadi. NE–NASBAT English sebagai lembaga pelatihan Bahasa Inggris terbaik kreatif-inovatif menawarkan asistensi, pendampingan, pelatihan dll. dengan layanannya yang beragam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s