Oleh: JASMANSYAH | Oktober 14, 2010

MGMP Bhs. Inggris gelar Workshop Lesson Study

mgmp slideshow

Di SMAN 1 Cisaat Kab. Sukabumi, Selasa – Rabu, 12 & 13 Oktober 2010, sekitar 50 org guru Bhs. Inggris SMA negeri/swasta di Kab. Sukabumi mengikuti workshop tentang KTSP & Lesson Study dengan tema : Meningkatkan Kualitas Pembelajaran guru Melalui Pemahaman KTSP dan Lesson Study”. Kegiatan tersebut dibuka oleh Kabid Dikmen (Drs. Dede Danial, M.Pd), an. Kepala Dinas Pendidikan Kab. sukabumi. Hadir selaku narasumber : Drs. Iyon Suyana, M.Pd (UPI Bandung), Drs. Yayat (Dikmen), Asep Mulyana, M.Pd (Pengawas), Eti Supartini, M.Pd (Pengawas), dan tim inti MGMP. Untuk mempraktekkan konsep Lesson Study, Tanggal 19 Oktober 2010 dilaksanakan implementasi pelaksanaan Lesson Study bertempat di SMAN 1 Cikembar Kab. Sukabumi. Workshop kali ini sepenuhnya didanai oleh LPMP Jabar. Ketua MGMP Bahasa Inggris SMA Kab. sukabumi, Jasmansyah, M.Pd selaku ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diniatkan guna meningkatkan pemahaman guru ihwal KTSP dan Lesson Study. “Sebagai hasil dari workshop tsb para guru diharapkan memiliki kemapuan untuk mengembangkan kurikulum serta mampu mengadaptasinya sesuai dengan kepentingan sekolah tempat mengajar” lanjutnya.

Sementara itu kepala dinas pendidikan kab. sukabumi yang diwakili kabid Dikmen (Drs. Dede danial, M.Pd) berharap agar para guru terus belajar dan belajar guna meningkatkan profesionalismenya menuju guru profesional. Dia berharap agar para guru tidak berhenti belajar.  “Karena sebagai guru memang harus mengajar, Untuk mengajar harus banyak belajar”, katanya.

http://mgmp2008.wordpress.com/2010/10/14/mgmp-bhs-inggris-gelar-workshop-lesson-study/

JUKLAK / JUKNIS

ENGLISH DEBATING CONTEST (EDC) SISTEM WSDC

TK. SMA/SMK SE – KAB. SUKABUMI

TAHUN 2010

I. PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam upaya menyiapkan  sumber daya manusia yang berkualitas ( kompeten )  agar mampu berkompetisi dalam pasar kerja yang penuh tantangan dan persaingan. Dengan tantangan tersebut, pembangunan di bidang pendidikan perlu dioptimalkan dengan melakukan perubahan dan penyesuaian, sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keberagaman kebutuhan, keadaan daerah dan peserta didik, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional, kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris sangat diperlukan. Dunia kerja menuntut sumber daya manusia yang terampil berbahasa internasional, dalam hal ini Bahasa Inggris, karena ruang lingkupnya yang semakin luas. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris para siswa masih rendah. Salah satu upaya peningkatan melalui kegiatan lomba debat dalam bahasa Inggris.

Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik melalui kegiatan debat siswa ini antara lain :

  1. Kemampuan berkomunikasi siswa dalam bahasa Inggris semakin meningkat.
  2. Kemampuan siswa dalam menyampaikan pendapat, pandangan dan persepsi mereka terhadap barbagai hal semakin baik.
  3. Siswa menjadi lebih kritis, berpikir analitis, dan konstruktif.
  4. Siswa mampu bertindak sportif.

II. PELAKSANAAN KEGIATAN

1. Waktu Pendaftaran       : 15 – 29 Juli 2010

2. Tempat Pendaftaran     : Kantor Dikmen, Dinas Pendidikan Kab. Sukabumi

Komplek Gelanggang Pemuda Cisaat Sukabumi

2. Pelaksanaan Lomba      : Rabu – Kamis, 4 s.d. 5 Agustus 2010

3. Waktu                               : pukul 07.00 sampai dengan selesai

4. Tempat                             : SMAN 1 Cibadak – Kab. Sukabumi

5. Technical Meeting         : Sabtu, 31 Juli 2010

Aula Dinas Pendidikan Kab. Sukabumi

Pukul 10.00  - selesai

6. Ketentuan Peserta         : a. Setiap sekolah wajib mengirimkan 1 tim.

b. Jumlah anggota setiap tim sebanyak 3 orang,

7. Pendaftaran menggunakan format terlampir.

II. PEDOMAN TEKNIS LOMBA

A. Umum.

  1. Peserta Lomba Debat adalah siswa/wi yang tercatat pada kelas X & XI SMA/SMK se kab. Sukabumi yang dibuktikan dengan surat tugas dari kepala sekolah,  kartu siswa dan Foto copy raport;
  2. Setiap sekolah mengirim 1 (satu)  tim (3 orang);
  3. Pendaftaran dilaksanakan setiap hari kerja, pukul 08 s.d. 15.00 bertempat di Kantor Dikmen, Dinas Pendidikan Kab. Sukabumi, Komp. Gelanggang Pemuda Cisaat Sukabumi;
  4. Setiap tim didampingi oleh 1 guru pendamping

B. Khusus

  1. Sistem yang digunakan adalah WSDC  system (World School Debating Championship)
  2. Setiap babak akan ditampilkan 2 tim (tim afirmatif/government dan tim negatif/opposition)
  3. Penentuan tim (afirmatif/government dan negatif/opposition) akan ditentukan saat technical meeting (pertemuan teknis);
  4. Panitia bersama tim juri akan menentukan motion/issue/tema yang akan diperdebatkan, dan akan diundi saat technical meeting;
  5. Tim penilai (adjudicators) terdiri dari 3 orang yang memiliki kompetensi dalam bidangnya  (English Debating Contest), independen dan diyakini tidak memiliki hubungan khusus dengan peserta;
  6. Techical meeting akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Juli 2010 jam 10.00 di Aula Dinas Pendidikan kab. Sukabumi (gelanggang Pemuda Cisaat);
  7. Masing-masing sekolah mengirim 1 orang guru pembimbing (diutamakan guru Bhs. Inggris) untuk mengikuti teknikal meeting;
  8. 8. Unsur-unsur yang dinilai dalam lomba debat antara lain: matter (40%), manner (40%) dan methode/strategy (20%);
  9. Waktu yang diberikan masing-masing tim (afirmatif  dan negatif)  @ 12 menit, dengan rincian sbb:

-                 1st sepaker kedua tim 5 menit

-                 2nd speaker kedua tim 3 menit

-                 3rd speaker kedua tim 2 menit

-                 Conclusion kedua tim 2 menit

  1. Jika jumlah peserta sampai batas akhir pendaftaran (Jum’at, 29 Juli 2010) ganjil, maka peserta pendaftar terkahir tidak dapat  mengikuti kompetisi, untuk menghindari bye (menang tanpa bertanding) pada rounde/babak pertama;
  2. Apabila peserta tidak hadir pada saat lomba berlangsung, dimana peserta/tim tersebut sudah mendaftar dan mendapat  lawan dalam teknikal meeting, maka rounde tersebut dimenangkan oleh tim yang hadir;
  3. Apabila pada round 2 (dua) dst. jumlah tim ganjil, maka 1 (satu) tim dianggap menang bye dan akan ditentukan melalui undian sesaat sebelum pelaksanaan rounde berikutnya dimulai;
  4. Pada babak kedua s.d. babak seperempat final, motion/issue/theme akan diundi 30 menit sebelum lomba dimulai;
  5. Motion yang akan diundi pada babak kedua s.d. babak seperempat final akan diambil dari motion yang disediakan (terlampir);
  6. Motion pada babak semi final akan diundi sebelum lomba dimulai, tapi motion-nya akan ditentukan oleh panitia dan dewan juri (tidak ada dalam lampiran);
  7. Setiap tim hanya boleh mendapatkan bye sebanyak 1 (satu) kali;
  8. Untuk tim yang masuk babak semi final dan final, akan diberlakukan sistem PoI (Point of Information);
  9. Pada masing-masing rounde, akan ditentukan peserta (individu) dengan kategori The best speaker;
  10. Setiap tim diperbolehkan membawa media yang mendukung argumentasinya;
  11. Untuk Informasi selengkapnya akan dijelaskan saat tekhnikal meeting;
  12. Info selengkapnya tentang lomba debat ini dapat dilihat di:

http://mgmp2008.wordpress.com, http://mgmpbahasaing@blogklubguru.com

  1. Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan melalui line telpon: 0266-222655

III. PENUTUP

Demikian juklak/juknis ini disusun dan disampaikan sebagai acuan pelasakaan kegiatan Lomba Debat Bhs. Inggris tk. SMA/SMK baik negeri mapun swasta se-Kab. Sukabumi tahun 2010. Semoga sukses!

Oleh: JASMANSYAH | Oktober 22, 2009

Tips cara belajar Bahasa Inggris secara efektif dan mudah – tutorial sederhana bagi pemula

Bahasa Inggris? Siapa Takut?
Negosiasi gagal karena salah paham dengan calon mitra asing. Pekerjaan tertunda karena komunikasi yang terbata-bata dengan klien dari negeri seberang. Mengalami kerugian dari kontrak kerja yang tidak sepenuhnya dipahami. Lamaran kerja di sebuah perusahaan asing ditolak karena kemampuan berbahasa Inggris yang kurang. Kesempatan kerja sama dengan perusahaan kelas internasional batal akibat tidak bisa menyediakan tenaga kerja yang bisa berbahasa Inggris.

Apakah Anda pernah mengalami salah satu dari kejadian di atas? Anda tidak sendirian. Banyak orang yang mengalami masalah dalam pekerjaan bukan karena tidak ada kemampuan atau kesempatan, melainkan hanya karena kemampuan bahasa Inggris yang kurang. Di dunia usaha yang makin mengglobal, semakin banyak perusahaan lokal Indonesia yang masuk ke pasar dunia, dan semakin banyak perusahaan internasional yang masuk ke pasar lokal, penggunaan bahasa Inggris yang menjadi bahasa ”bisnis” makin dirasakan sebagai suatu keharusan. Masalahnya, jumlah pelaku bisnis di Indonesia yang sudah nyaman menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari dalam bisnis masih terbatas.

GAYA BELAJAR
Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing.

PRINSIP BELAJAR YANG EFEKTIF
Belajar bahasa Inggris tidak sulit, tetapi juga tidak semudah membalik telapak tangan. Yang penting adalah kemauan dan ketekunan. Pakar pembelajaran Bahasa Inggris, H. Douglas Brown mengemukan lima prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif berikut ini.

”Way of life”. Jika kita belajar bahasa Inggris di negeri tempat bahasa tersebut digunakan sebagai Bahasa Ibu, umumnya kita akan lebih cepat menguasai bahasa tersebut karena kita setiap hari dikelilingi oleh bahasa Inggris, dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur. Hal ini disebabkan karena bahasa Inggris telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Demikian pula yang harus kita lakukan di Indonesia, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan efektif: kita harus menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kehidupan kita. Artinya, kita harus mencoba menggunakannya setiap hari di mana mungkin. Untuk itu, kita bisa membaca, mendengar, ataupun berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada setiap kesempatan yang kita temui atau yang bisa kita ciptakan. Misalnya, kita bisa menyisihkan waktu tiap hari untuk baca satu artikel bahasa Inggris dalam satu hari. Kalau satu artikel belum mampu, satu paragraf atau satu kalimat per hari pun tidak jadi masalah. Kita jadikan kalimat tersebut kalimat kita hari itu, dan kita gunakan kalimat tersebut dalam segala kesempatan yang mungkin ada dalam hari itu.

Atau, kita bisa juga meluangkan waktu untuk mendengarkan segala sesuatu dalam bahasa Inggris (lagu, berita, atau kaset-kaset berisi pembicaraan dalam bahasa Inggris) untuk membiasakan telinga kita terhadap bahasa asing tersebut. Yang bisa kita lakukan antara lain adalah mendengarkan kaset-kaset (baik lagu, pidato, presentasi, atau kaset pembelajaran dalam bahasa Inggris) di mobil sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya. Kita juga bisa mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris (menulis memo, surat pendek, ataupun menulis rencana kerja yang akan kita lakukan selama seminggu atau untuk hari berikutnya). Pada prinsipnya, kelilingi hidup kita dengan bahasa Inggris yang topik-topiknya kita senangi atau kita butuhkan.

”Total commitment”. Untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita, kita harus memiliki komitmen untuk melibatkan bahasa Inggris dalam hidup kita secara fisik, secara mental, dan secara emosional. Secara fisik, kita bisa mencoba mendengar, membaca, menulis, dan melatih pengucapan dalam bahasa Inggris, terus-menerus dan berulang-ulang. Secara mental atau intelektual, kita bisa mencoba berpikir dalam bahasa Inggris setiap kali kita menggunakan bahasa Inggris.

Misalnya, dalam memahami bahasa Inggris, jangan kata per kata, tapi arti secara keseluruhan. Kita bisa mencoba mengenali beberapa ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti yang kurang lebih sama, misalnya: How’re you?, How’s life?, How’s business? (jangan terpaku pada satu ungkapan saja). Dan, yang paling penting adalah keterlibatan kita secara emosional dengan bahasa Inggris, yaitu kita perlu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar bahasa Inggris, dan kita perlu mencari ”hal-hal positif” yang bisa kita nikmati, ataupun yang bisa memberikan kita keuntungan jika kita mampu menguasai bahasa Inggris. Hal-hal ini akan memberikan energi yang luar biasa pada kita untuk tetap bersemangat belajar bahasa Inggris. Ketiga aspek (fisik, mental, dan emosional) ini harus kita libatkan secara total dalam proses belajar kita, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan lebih efektif.

”Trying”. Belajar bahasa adalah seperti belajar naik sepeda atau belajar menyetir mobil. Kita tidak bisa hanya membaca dan memahami ”buku manual” saja, tetapi kita harus mencoba menggunakannya. Pada tahap pembelajaran (tahap percobaan), sangat wajar jika kita melakukan kesalahan. Yang penting adalah mengetahui kesalahan yang kita lakukan dan memperbaikinya di kesempatan yang berikutnya. Akan lebih baik lagi jika pada saat mencoba kita mempunyai guru yang bisa memberitahu kita kesalahan yang kita lakukan. Guru tidak harus guru formal di sekolah atau kursus bahasa Inggris. Guru bisa saja sebuah kaset yang bisa kita dengarkan dan kita bandingkan dengan ucapan kita, sebuah buku pelajaran yang bisa kita baca dan cek jawabannya, atau bisa juga kenalan, ataupun kerabat yang bisa membantu kita jika kita ada masalah atau ada hal-hal yang ingin kita tanyakan. Kita tidak usah malu bertanya, dan tidak usah takut melakukan kesalahan. Dari pertanyaan yang kita ajukan dan dari kesalahan yang kita lakukan, kita bisa belajar banyak.

”Beyond class activities”. Jika kita belajar bahasa Inggris secara formal (di kelas, di kursus), biasanya jam-jam belajarnya terbatas: empat jam seminggu, enam jam seminggu ataupun delapan jam seminggu. Yang pasti jam belajar di kelas ini tentunya sangat terbatas. Agar belajar bisa lebih efektif, kita harus menciptakan kesempatan untuk ”belajar” juga di luar jam-jam belajar di kelas: berdiskusi dengan teman, mengunjungi websites yang menawarkan pembelajaran bahasa Inggris gratis, ataupun berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan teman-teman atau native speakers (baik melalui surat, email, ataupun percakapan langsung). Kita bisa juga mencoba membaca koran, majalah, buku-buku teks, mendengarkan radio, lagu, ataupun menonton acara-acara dan film. Agar proses belajar bisa lebih menarik, pilihlah topik-topik yang sesuai dengan minat kita, kebutuhan kita, ataupun yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang kita tekuni.

”Strategies”. Jika komitmen, keberanian mencoba, dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian hidup telah kita terapkan, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi belajar yang tepat untuk menunjang proses belajar kita. Strategi ini bisa kita kembangkan dan kita sesuaikan dengan kepribadian dan gaya belajar kita masing-masing. Ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan ”cue-cards”, yaitu kartu-kartu kecil yang bertuliskan ungkapan atau kata-kata yang ingin kita kuasai disertai dengan contoh kalimat yang bisa menggunakan kata-kata tersebut. Kartu ini bisa kita bawa kemana pun kita pergi. Kapan pun ada kesempatan (pada saat menunggu taksi, menunggu makan siang disajikan, ataupun pada saat berada dalam kendaran yang sedang terjebak kemacetan), kita bisa mengambil kartu ini dan membacanya serta mencoba melakukan improvisasi dengan kata-kata baru dalam struktur kalimat yang sama. Ada pula orang yang lebih mudah belajar dengan langsung berkomunikasi lisan dengan orang lain atau native speakers. Dari komunikasi ini mereka bertanya, mendengar, dan memperbaiki ucapan dan meningkatkan kosa kata mereka dengan gaya belajar kita.

”Auditory learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi, ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya.

”Visual learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar ”visual”. Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. Kita bisa juga membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering kita temui dalam melakukan pekerjaan kita.

Untuk mencoba memahami suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual: ”flow chart”, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya.

”Kinesthetic learners”. Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse), sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut.

Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar (misalnya auditory dan visual, atau visual dan kinesthetic). Apa pun gaya belajar kita, jika kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.

Oleh: JASMANSYAH | Juni 2, 2009

Check out my Slide Show!

Oleh: JASMANSYAH | Juni 2, 2009

Gambar Slide

Oleh: JASMANSYAH | Mei 19, 2009

My Slideshow

Oleh: JASMANSYAH | Mei 19, 2009

SBY-JK DAN REFORMASI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Kami juga akan mengalokasikan dana APBN sekitar 20 % untuk membangun dunia pendidikan lima tahun ke depan. Selain itu, para para pegawai yang terlibat baik langsung atau tidak dalam dunia pendidikan, akan kami perhatikan dengan serius kesejahteraanya, agar mereka lebih konsentrasi mendidik dan memberikan pelayanan kepada para pelajar yang notabene adalah penerus dan calon pemimpin masa depan bangsa” READ MORE…

Oleh: JASMANSYAH | Mei 19, 2009

PEMBERDAYAAN GURU MELALUI MGMP/KKG Baca disini…

Oleh: JASMANSYAH | Mei 19, 2009

Di tempat ini aku menyimpan berbagai karya tulis dan hasil penelitian yang pernah aku hasilkan, baik ketika masih kuliah maupun saat aku menjalankan profesi sebagai guru dan dosen. Anda boleh membaca, mengkopi karya-karya tersebut dengan etika akademik, yaitu dengan menuliskan sumber dari tulisan ini. Mudah-mudahan bermanfaat untuk semua orang. Kritik dan saran anda saya tunggu sebagai bahan koreksi dan introspeksi diri (EVADIR), agak bisa lebih baik pada masa-masa yang akan datang. Baca selengkapnya disini….\


INTERACTIVE READ-ALOUD:

READING DESIGN TO SUPPORT UNDERSTANDING

By: Jasmansyah)*

Reading activity plays an important role in self development and enhances students’ English ability. Langan, (2002, p. 524) states that reading is the key to success in English. The knowledge of almost every subject flows from reading since it is considered as the heart of education (Trelease, 2001, p. 11). Through reading activity, people can get a variety of hidden information and knowledge in books and other printed media. Reading can be considered as an opened-key to the store room of science and also as a tool to access such information to the worldwide web. Reading can still be needed as a means of learning a variety of science, particularly for students. Success in reading is very important to students, both for academic and vocational advancement and for students psychological well being (Carnine, Silbert, and Kameenui, 1990, p. 33). Moreover, the ability to read and understand of text in English is also very useful for people’s career, for study purpose or simply for pleasure (Harmer, 1998, p. 68).

Some strategies could be applied in teaching reading in the classroom. Researches continually demonstrate that reading aloud to children is the single most important activity for building the knowledge required for success in reading. Well planned and well thought-out interaction during read-aloud time helps students make meaning of text. In an interactive read-aloud the teacher engages in a series of activities, including: pre-viewing the book; asking students to make predictions and connections to prior knowledge; stopping at purposeful moments to emphasize story elements, ask guiding questions or focus questions; and using oral or written responses to bring closure to the selection

As one of the four skills, reading is very important skill that must be mastered by learners in learning certain language. McLaughlin in Celce-Murcia M (2002) states that “….from all skills that the child must acquire at school, reading is the most complex and difficult. The child who accurately and efficiently translates a string of printed letters into meaningful communication may appear to be accomplishing that task with little mental effort. In fact, however, the child is engaging in complex interactive processes that are dependent on multiple sub skills and an enormous amount of coded information (p. 75)“. However, since teachers insofar do not equip themselves with varying strategies of teaching reading, the reading classroom activities seem to be so monotonous. This results in demotivation of students to eagerly and actively engage in reading arena. Thus, teachers everywhere are faced with enormous challenges in their classrooms. In one hand, they are expected to meet the needs of an increasingly diverse students’ demand. There is more content to teach each year, as well. Teachers are now expected to integrate technology and teach to myriad standards and are judged by standardized test scores achieved by their students, with no excuses tolerated and little understanding of the challenges they face daily in the classroom. On the other hand, teachers have to create classroom activities in such a way presenting fun and lively atmosphere to support learning. Richard, Jack C and Willy A. Renandya (2002, p. 22) put forward that teacher encourages students to read and think aloud from the very beginning, although the familiarity with the process will take time. Reading and thinking aloud presents a very high cognitive load for L2 readers, yet not an impossible one.

Current research generally views reading as an interactive, sociocognitive process involving a text, a reader, and a social context with in which the activity of reading takes place. In reading, “an individual constructs meaning through a transaction with written text that has been created by symbols that represent language. The transaction involves the reader’s acting on or interpreting the text, and the interpretation is influenced by the reader’s past experiences, language background, and cultural framework, as well as the reader’s purpose for reading” (Hudelson 1994, p. 130). In addition, schema theory suggests that the knowledge we carry around in our head is organized into interrelated patterns. These are constructed from our previous experience of the experiential world and guide us as we make sense of new experiences. They also enable us to make predictions about what we might expect to experience in a given context.

When we read, the complex process is involved. Within the complex process of reading, six general component skills and knowledge areas have been identified (Grabe 1991, p. 379):

1. Automatic recognition skills: a virtually unconscious ability, ideally requiring little mental processing to recognize text, especially for word identification

2. Vocabulary and structural knowledge: a sound understanding of language
structure and a large recognition vocabulary

3. Formal discourse structure knowledge: an understanding of how texts are
organized and how information is put together into various genres of texts (e.g., a
report, a letter, a narrative)

4. Content/world background knowledge: prior knowledge of text-related information and a shared understanding of the cultural information involved in text

5. Synthesis and evaluation skills/strategies: the ability to read and compare
information from multiple sources, to think critically about what one reads, and to decide what information is relevant or useful for one’s purpose.

6. Metacognitive knowledge and skills monitoring: an awareness of one’s mental
processes and the ability to reflect on what one is doing and the strategies one is
employing while reading.

When fluent readers read, they bring together all of these components into a complex process. Fluent readers recognize and get meaning from words they see in print, and use their knowledge of the structure of the language to begin forming a mental notion of the topic (Celce-Murcia, 2002, p.78). To unravel teacher’s problems mentioned before, I put forward a strategy of teaching reading namely interactive read-aloud. Hopefully this strategy can support teachers in meeting some of the more daunting challenges of teaching reading.

Interactive read-aloud (Barrentine in Herrel and Michael, 2004, pp. 44-45) is the reading of books out loud with the use of expression, different voices for different characters, gestures, and the active participation of the listeners through predicting, discussion, and checking for understanding. It also involves the exploration of the structure of text and think-aloud strategies that demonstrate how the reader gains meaning from text. This form of read-aloud is a powerful teaching tool for use with English language learners because it produces a strong English model and it reduces anxiety in the students since they can listen and comprehend due to the use of voices, illustrations and gestures. It allows students to see their teachers as role models and in interactive read-aloud the teachers demonstrate what good readers do.

Furthermore, interactive read-loud is motivational. When students observe a teacher reading fluently and enthusiasm they often choose to read the same book, or another book by the same author for leisure reading. The discussion of characters, setting, and description that is involved in interactive read-aloud provides shared understanding and vocabulary that helps English language learners stretch their linguistic abilities. It is likely that students who frequently hear books read aloud have a more extensive “vocabulary than those who do not.

We read aloud many times and for many purposes. If we are predictable about this, our students can anticipate not only that we will read aloud but also the roles we hope they will take on during each of these read-aloud times as suggested by Calkins (2001, p. 51):

1. Reading aloud to start the day

In many classrooms, the morning read-aloud convenes the community and acts as almost a blessing on the day. There may be a song or a choral reading of a familiar poem that serves as an incantation. In any case, we are soon reading aloud a poem or a picture book. We often choose a text that can act like a lantern, lighting our way. For our opening read-aloud we select poems and picture books that make us all laugh and fall in love with words.

2. Reading Aloud within Reading and Writing Mini lessons

In the mini lesson before our writing workshop, we will often return to texts we have introduced during the morning read-aloud (or during a later read-aloud of a chapter), this time to study passages we love, to talk about what the author has done, and to consider the effect the author was hoping to create. We will probably not reread the book in its entirety for this discussion.

3. Reading Aloud in Support of the Social Studies and Science Curriculum.

It’s terribly important for students to listen to nonfiction texts read aloud. If our students are going to comprehend and write news articles, essays, directions, arguments, and proclamations, they need to develop an ear for the rhythms and structures used in these genres. We can give our students the words that will take them to new worlds, launch new investigations, and introduce new concepts.

Reading Aloud Can Help Students Talk and Think about Texts

Oddly enough, many students will listen to a text and have nothing to say. But when these same students talk about television shows or movies, they do not need conversational starters or webs. Something is drastically wrong, then, when our students are silenced by text. We suspect that this often the result of problematic instruction. For too long, students have read literature and then faced a barrage of questions, each with one right answer. Recently I heard a teacher hold up a story book, Tarzan and Jane, and say to a group of students “Tarzan and Jane are friends who are what, class? I know the book well but I did not have a clue about what the teacher expected the class to say. One boy pipe in, “friendly? Tarzan and Jane are friends who are friendly?” The student’s intonation alone showed that he was asking, “Is this the answer you want?”

But no, the teacher was looking for another word to fill in the blank in her sentence. She repeated her question. Tarzan and Jane is about friends who are what, class?”

“Adventurous?” a girl suggested, and although I cheered her ingenuity and knowledge of the story, the teacher continued to scan the room looking for raised hands and the right answer. Now she produced a clue. “It starts with a ‘d.”

I wracked my mind. “Tarzan and Jane are, what?”, Damp?”

No one ventured another guess, so the teacher completed her own sentence. “Are Tarzan and Jane different, class?” she asked and proceeded to deliver her predetermined lesson on multiculturalism. Tarzan lives in jungle and Jane lives in city, but they are, after all, still friends.

Seeing from that teaching, most of the questions asked by the teacher were strictly factual and required little or no ability to sustain sequential thinking. Even such question was more discouraging on students’ participation in lessons. The teacher was mainly offering single word replies, and the questions students asked were reassurance rather than expressions of lively curiosity.

To help our students think, talk, and eventually write well about texts, we must make a dramatic break from the habit of grilling them with known-answer questions. I do not know why it is ingrained in us as teachers to pepper students with oral, workbooklike, fill-in-the-blank questions. We want to say, “Let’s talk about the reasons Bawang Merah hates Bawang Putih,” but because we are accustomed to the conversational pattern that dominates classrooms, we say,” does Bawang Merah in this book hate Bawang Putih? Does Bawang Merah always treat Bawang Putih badly? A student answers. If this is not the answer we were looking for, we restate the question. Another student answers. Again, this is not the right answer we wanted. Now there is silence. We try giving part of the answer we want. Why is it so inconceivable that we simply say to our students,” Could we talk about the reactions the Bawang Merah in this book has to Bawang Putih?” and then back out the conversation, leaving space for them to comment and elaborate on each other’s comments without acting as Masters of Ceremonies. The easiest way is to use “say-something,” to students. We tend to read aloud and to pause at “talk-worthy” spots.

At first, we simply encourage students to talk to anyone who is sitting nearby. After a few weeks, we assign children to sit beside the same read-aloud partner each day. Long-term read-aloud partners allow students to say things like,” You know how yesterday you said such and such? Well, it’s happening still,” or, “It’s the same as before! Students practice getting in and out of talk positions quickly, so that before long, we can pause at a key section of the text and look out at our students, who note our signal and get knee-to-knee with their partner. The room erupts in conversation. After a few minutes, we simply resume reading (beginning with a paragraph of overlap as the voices subside).

How important is interactive read-aloud? Critically important. Don’t you ever want students to just lie back and let the words flow over them…to just listen?” people sometimes ask about the read-aloud. But I have to admit that I don’t really see the read-aloud in this dreamy, sleepy sort of way. Too often children consider the read-aloud as a time to doze, dream, fiddle and snack. I see the interactive read-aloud as the heart of our reading instruction time, and I want students’ full attention to be on what we do together.

In conclusion, interactive read-aloud, while traditionally associated with primary classrooms, has been found to be effective in supporting comprehension and vocabulary development in older students. Even high school students benefit from hearing fluent, expressive reading of English text. By hearing literature read with the use of different voices, inflection, gestures, and body language, English language learners are supported in refining their reading and speaking skills.

This form of read-aloud is a powerful teaching tool for use with English language learners because it produces a strong English model and it reduces anxiety in the students. Interactive read-loud is motivational. When students observe a teacher reading fluently and enthusiasm they often choose to read the same book, or another book by the same author for leisure reading. The discussion of characters, setting, and description that is involved in interactive read-aloud provides shared understanding and vocabulary that helps English language learners stretch their linguistic abilities.


References

Bernhardt, E. 1991. Reading Development in a Second Language: Theoretical, empirical, and Classroom Perspectives. Norwood, NJ: Ablex.

Calkins, Lucy McCormick.2001. The Art of Teaching Reading. United States: Addison-Wesley Educational Publishers Inc.

Carnine, D., Silbert, J., & Kameenui, E. J. 1990. Direct Instruction Reading. Ohio: Merrill Publishing.

Celce-Murcia M. 2002. Teaching English as a Second or Foreign Language. Third Edition. Boston: Heinle & Heinle Publishers.

Grabe, W. 1991. Current Development in Second Language Reading Research. TESOL Quaterly.

Hudelson, S. 1994. Literacy Development of Second Language Children. In Educating Second Language Children. Edited by F. Genesee. Cambridge: Cambridge University Press.

Herrel, Adrienne and Michael Jordan. 2004. Fifty Strategies for Teaching English Language Learners. United States of America: Pearson Prentice Hall.

Harmer, J. 1998. How to Teach English: An Introduction to the Practice of English Language Teaching. Longman

Langan, Jhon. 2002. Reading and Study Skills. United States: The McGraw-Hill Companies.

Richards, Jack C. and Willy A. Renandya. 2002. Methodology in Language Teaching: An Anthology of Current Practice. United States of America: Cambridge University Press.

)* Guru SMAN 1 Sagaranten, Staf pengajar STAI Sukabumi dan AMIK CBI Sukabumi, serta pengurus MGMP Bahasa Inggris Kab. Sukabumi

HAVING FUN IN TEACHING AND LEARNING ENGLISHTHROUGH LITERATURE (POETRY)

Language learning is closely related to the development of literary and art. Learners are introduced to literary works and getting use to with appreciating them through learning a language. A literary and the developments of human life go along together. Man may begin to appreciate literary works from early student hood, and it keeps going when a student enters a formal education. However, literary appreciation has been considered to be fail in language learning in our country (Alwasilah, 2004). The failure is probably caused by the content of language learning activities in the classrooms. Students have a very limited experience in literature because they have been led to understand literary works merely as texts and not more than that. They have never been given any opportunity to expose their own opinion, feeling, or argument toward literary works they read. READ MORE……

LEARNING THE SPOKEN LANGUAGE, BY: JASMANSYAH

Being international language, English is one of the important subjects that must be learnt in Indonesia. It is called EFLIN (English as a Foreign Language in Indonesia) that has been taught in elementary school to senior high school. As international language, it should be mastered in term of spoken or written. CLICK HERE TO READ COMPLETLY…….

In Indonesian context, English as a foreign language has been learned by learners since they were in Junior High School, even in some schools since Elementary School. They have been learned English because of the difference reasons / factors, such as: they are interested to learn English and want to be able to master it for the future ambitions, or might be forced by the rule of government in which make it as compulsory subject for students from Elementary School up to Senior High School. READ MORE…

BOOK REVIEW (INDO)

Mencermati sejumlah persoalan yang dihadapi bangsa saat ini, kita patut bersedih dan berduka. Wajah bopeng negeri ini yang telah di diagnose sejak setengah abad silam belum memperlihatkan tanda-tanda akan segera membaik.READ MORE….

BOOK REVIEW (ING)

Language is a symbol of a country. As a symbol of a country, it should be kept and also developed time to time. It is important because language plays an important role in terms of communication and interaction with another country in the world. By mastering of language, we could compete with another country. Language here not means of Indonesia only, but for whole kinds of languages in the world, includes English. CLICK HERE TO READ MORE…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.