Oleh: JASMANSYAH | Oktober 29, 2008

SAMBUTAN HARI GURU SEDUNIA

#fullpost {display:none;}

Sambutan Ketua Umum PB PGRI
Dr. Sulistiyo M.Pd
Pada peringatan Hari Guru Sedunia 5 oktober 2008

Peningkatan mutu guru saat ini sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi, sudah mutlak harus dilakukan. Tanpa peningkatan mutu guru, berbagai upaya peningkatan kualitas pendidikan dan kucuran anggaran besar-besaran sia-sia belaka atau tidak efektif.

Peringatan Hari Guru Sedunia yang jatuh setiap 5 Oktober menjadi bahan introspeksi untuk peningkatan mutu dan profesionalisme.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistyo dalam rangka peringatan Hari Guru Internasional, Minggu (5/10). Perbaikan kualitas dan mutu guru merupakan tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional, pemerintah daerah, sekolah, dan guru sendiri.

Perlu tumbuhkan kesadaran

Sulistyo mengatakan, penting menumbuhkan kesadaran internal guru sendiri tentang perbaikan dan perubahan kinerja. Guru perlu mengetahui persis kewajiban dan penguasaan kompetensi secara maksimal.

Kenyataannya, sebagai ilustrasi, dalam disertasinya, Sulistyo meneliti kemampuan metakognisi guru dalam mempersiapkan pembelajaran, yakni bagaimana guru merancang, memikirkan, dan mengelola bahan ajar.

”Kemampuan guru mempersiapkan pembelajaran di kelas masih lemah. Guru minim gambaran apa yang harus dilakukan di kelas,” ujar Sulistyo yang menyebar kuesioner, observasi dalam kelas, wawancara mendalam, serta tes psikologi untuk penelitian tersebut.

Persiapan hanya dilakukan formal dengan buku persiapan pengajaran yang disusun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), biasanya dicetak dinas pendidikan setempat, tetapi secara substantif belum dihayati para guru.

Banyak program tidak tepat sasaran

Sulistyo melihat, peningkatan profesionalisme guru di tingkat kabupaten atau kota sering tidak menyentuh kebutuhan guru yang ada disana. Guru masih dilihat dari kaca mata birokrasi, bukan akademisi.

”Guru perlu mendapat informasi tentang ilmu dan teknologi pendidikan. Namun, itu tidak dipenuhi sehingga semakin lama bekerja, guru semakin ketinggalan informasi. Ini persoalan klasik di Indonesia,” ujarnya.

”Kadang hanya perwakilan para guru yang dikirim ke pelatihan. Ada guru yang tidak mengalami peningkatan. Di sisi lain, ada guru beruntung mendapat pelatihan berkali-kali,” ujarnya.

Sulistyo melihat, Departemen Pendidikan Nasional seharusnya mengevaluasi kembali dan melakukan kajian ulang program-program peningkatan kualitas guru karena kondisinya selama ini tidak banyak berubah. Perlu dilihat apakah program-program itu tepat sasaran dan sesuai kondisi topografi Indonesia.

Sumber : PGRI

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: